DETAIL BERITA

BANJARMASIN (4/9), Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan kian mengancam berbagai sektor strategis, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga keberlangsungan proses pendidikan tinggi. Menanggapi situasi krisis lingkungan tersebut, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XI mengimbau pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) se Kalimantan untuk mengambil langkah adaptif guna melindungi keselamatan serta kesehatan sivitas akademika.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala LLDikti Wilayah XI, Prof. Rodiansono, menekankan pentingnya keterlibatan aktif institusi pendidikan tinggi dalam memitigasi dampak karhutla yang kian meluas di lima provinsi di Kalimantan, khususnya di wilayah terdampak paling parah seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
"Sebagai bagian dari masyarakat pendidikan, insan akademis diharapkan berkontribusi, melibatkan diri, dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam penanggulangan dampak karhutla. Dampak yang ditimbulkan sangat masif, tidak hanya memengaruhi individu dan civitas akademika, tetapi juga ekosistem pendidikan dan masyarakat luas," ujar Prof. Rodiansono.
Guna menjaga proses pengajaran dan akademik tanpa mengabaikan aspek keselamatan, LLDikti Wilayah XI meminta pimpinan PTN dan PTS merumuskan kebijakan relaksasi dalam proses pembelajaran dan operasional institusi.
"Kami mengimbau pimpinan PTN dan PTS di regional Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat untuk menerapkan kebijakan relaksasi pada proses pendidikan, pengajaran, perkuliahan, hingga jam kerja pegawai. Skema ini dapat diwujudkan melalui penyesuaian jam kerja, pergeseran jadwal, maupun optimalisasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk menngurani dampak Karhutla" ungkapnya.
Selain penyesuaian internal, Prof. Rodiansono turut mengapresiasi respons cepat sejumlah PTN dan PTS di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan yang telah menginisiasi tindakan preventif dan mitigatif secara mandiri.
"Saya sangat mengapresiasi kawan-kawan di PTS maupun PTN di seluruh wilayah Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Timur, Utara, dan Selatan yang sudah mengambil inisiatif melakukan langkah-langkah pencegahan, penanggulangan, serta mitigasi dampak buruk karhutla secara mandiri," ungkap Prof. Rodiansono.
Lebih lanjut, ia mendorong insan akademis untuk mengoptimalkan peran tridharma melalui edukasi publik berbasis kepedulian lingkungan guna menekan potensi karhutla berulang.
"Civitas akademika memiliki tanggung jawab moral untuk mengedukasi masyarakat mengenai mitigasi risiko karhutla, baik dalam tata kelola pertanian dan perkebunan, maupun dalam tindakan preventif berskala rumah tangga seperti menghentikan kebiasaan membakar sampah pada musim kemarau," tegasnya.
"Mari kita jadikan imbauan ini sebagai semangat bersama. Kita berharap situasi ini dapat segera membaik, bahkan dampaknya bisa hilang sama sekali, sehingga kita terhindar dari krisis yang lebih berat di masa yang akan datang," pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, Prof. Rodiansono mengharapkan imbauan ini dapat dijadikan sebagai semangat bersama oleh seluruh pihak, dengan harapan situasi dapat segera membaik dan dampaknya hilang sama sekali, sehingga krisis yang lebih berat di masa mendatang dapat terhindar.
