DETAIL BERITA

Samarinda – Ruang Pertemuan Politeknik Pertanian Negeri (Politanik) Samarinda menjadi saksi semangat sains terapan yang berkembang di Kalimantan Timur. Dalam kunjungan kerjanya, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaitek), Prof. Stella Christie, hadir bersama Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, dan Dirjen Riset dan Teknologi, Dr. Ahmad Najib Burhani. Turut mendampingi Kepala LLDIKTI Wilayah XI, Muhammad Akbar (18/6).
Acara ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa dari Politanik Samarinda dan Politeknik Negeri Samarinda, yang bersama-sama menampilkan karya riset unggulan dalam sesi gabungan. Inovasi yang dipresentasikan mencakup pengolahan hasil pertanian, energi terbarukan, rekayasa lingkungan, hingga model inkubasi bisnis lokal. Dua inovasi yang menjadi sorotan adalah Inovasi Industri Hijau dari Limbah Jangkos, dan Inkubator Bisnis Berbasis Produk Lokal.
Dalam sesi diskusi reflektif bersama para dosen, Wamen Stella menyampaikan arahannya dengan penuh semangat dan wawasan. Wamen Stella menyampaikan kepada dosen-dosen yang berhadir pentingnya daya saing riset di Indonesia.

“Riset kita harus kompetitif. Di mana pun, negara maju akan selalu menempatkan riset sebagai ujung tombak. Dan harus ada insentifnya. Kami masih terus berupaya untuk mengakomodasi hal melalui LPDP agar ada insentif langsung ke peneliti,” ujar Wamen Stella.
Kemudian poin utama yang disampaikan, ia menekankan bahwa hasil riset di bidang ilmu pengetahuan pasti berdampak luas.
“Sesuatu yang baru dihasilkan, di dunia keilmuan, pasti berdampak pada ekonomi, finansial bagi masyarakat sekitar dan bagi masyarakat dunia. Misalnya, Provinsi Kalimantan Timur mempunyai tropical rain forest, dan tropical rain forest adalah jantung bagi dunia ini, jadi sesuatu yang dihasilkan dari tropical rain forest akan berpengaruh pada dunia. Selain itu, kelapa sawit adalah produk global. Jika kita menemukan pupuk organik yang bisa menurunkan serangan penyakit terhadap kelapa sawit, itu akan secara signifikan meningkatkan produktivitas kelapa sawit dan berdampak besar pada peredarannya di dunia,” jelasnya.
Wamen Stella juga menekankan pentingnya fokus riset agar memudahkan proses hilirisasi.
“Fokus. Riset group yang Bapak Ibu lakukan harus mempunyai fokus, jangan tersebar. Apabila tersebar, akan sangat sulit untuk hilirisasi. Fokus yang dimaksud adalah fokus pada masalahnya dan fokus pada pertanyaannya,” tegasnya.
Ia menambahkan, riset yang fokus akan lebih mudah dikembangkan bersama industri dengan skala lebih besar. Selain itu, Wamen Stella memberikan pesan penting kepada para dosen untuk melibatkan mahasiswa dalam penelitian atau riset yang dilakukan.
“Sangat penting Bapak Ibu sekalian untuk melibatkan mahasiswa dalam penelitian Bapak Ibu.”
Menurut Wamen Stella, mahasiswa harus diberikan ruang untuk berpartisipasi aktif dalam riset dosen karena hal ini akan memperkuat pemahaman mereka terhadap isu-isu riil dan membentuk keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan problem solving sejak dini. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, termasuk saat berkunjung ke kampus-kampus vokasi lain, ia juga menyatakan bahwa bahwa riset yang dilakukan dosen harus fokus dan kontekstual.
Kehadiran Wamendiktisaitek kali ini menegaskan komitmen pemerintah, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dalam memperkuat ekosistem riset dan mendorong hilirisasi riset vokasi sebagai pusat penciptaan solusi berbasis sains yang kontekstual dan memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Kunjungan ke SMA Garuda Transformasi
Wamen Stella melanjutkan kunjungannya ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Samarinda yang dipilih menjadi Sekolah Garuda. Sekolah Garuda merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) Presiden Prabowo dalam pengembangan talenta sains dan teknologi Indonesia. Sebagai sekolah khusus STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics), bersifat inklusif dan dapat diikuti oleh seluruh anak bangsa.
Selain melalui skema transformasi, akan dibangun pula sejumlah Sekolah Garuda Baru di Indonesia. Kedua skema ini ditujukan untuk memantik minat dan semangat siswa dalam berkompetisi mengikuti ujian masuk perguruan tinggi unggul nasional dan universitas terbaik dunia. Implementasi pengembangan Sekolah Garuda Transformasi diawali dengan melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) selaku pelaksana program, sejak Senin lalu telah melakukan visitasi ke SMAN 10 Samarinda guna mendata informasi tentang perjalanan manajemen, pembiayaan, kurikulum, keunggulan dan kerjasama yang telah dilakukan sekolah tersebut. Pembangunan Sekolah Garuda Transformasi ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SMA atau MA yang berpotensi unggul terpilih. Proses transformasi dilakukan dengan mendorong pengembangan ekosistem sains dan teknologi modern.
Penentuan Sekolah Garuda Transformasi dilakukan secara selektif dan kompetitif. SMA dan MA di Indonesia dapat mengikuti seleksi dengan mempertimbangkan sejumlah kriteria. Antara lain kriterianya adalah memiliki sistem, sarana dan prasarana serta SDM (guru dan tenaga kependidikan) yang mumpuni (diutamakan sekolah yang berasrama/boarding school). Sekolah juga diharapkan bisa memberikan akses pendidikan secara inklusif dan merata.

